6 Hal yang Bisa Diaplikasikan Sistem Internet of Things dalam Hidroponik

Hidroponik  
Muhammad Zacky Asy'ari sedang mempraktikkan pengukuran PPM dalam air tandon hidroponik dengan penerapan sistem internet of things dalam sosialisasi internet of things di kota Depok Jawa Barat.
Muhammad Zacky Asy'ari sedang mempraktikkan pengukuran PPM dalam air tandon hidroponik dengan penerapan sistem internet of things dalam sosialisasi internet of things di kota Depok Jawa Barat.

Budidaya tanaman dengan sistem hidroponik kini kian diminati masyarakat khususnya diperkotaan, apalagi dimasa pandemi covid-19 banyak masyarakat mengisi waktu kosongnya di rumah dengan bertani tanpa tanah ini.

Bercocok tanam dengan sistem hidroponik sangat terukur, dapat diprediksi dari segi hasil maupun jangka waktu tanam. Semuanya tergantung dari beberapa syarat yang dapat diukur, misalnya PPM, suhu air, kelembaban udaya, pH, dll.

Prinsip penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) adalah semua yang bisa dideteksi oleh alat sensor sangat memungkinkan untuk diaplikasikan dalam modul IoT. Maka beberapa pekerjaan manusia dapat digantikan oleh alat atau robot atau minimal memberi sinyal kepada manusia (pengelola) bahwa perlu penanganan pada tanaman, misalnya peringatan kadar nutrisi kurang, air tandon harus ditambah, dll. Terpenting alat-alat sensor tersebut sudah tersedia dipasaran.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Berikut beberapa pekerjaan yang dapat di implemantasikan dengan IoT dalam sistem hidroponik adalah:
1. Mendeteksi kadar nutrisi. Kadar nutrisi diukur dengan TDS meter (Total Dissolved Solids) atau total kepadatan yang terlarut di dalam air yang akan menghasilkan satuan PPM (Part Per Million). Alat sensor ini sudah banyak tersedia di pasar, di market place maupun toko elektronik.
2. Mendeteksi laju air yang mengalir (flowmeter). Pada instalasi hidroponik air mengalir, sistem NFT air mengalir sangat tipis, sedangkan DFT air mengalir namun tidak sederas sistem NFT. Agar tanaman dapat menyerap nutrisi dengan sempurna arus air tidak boleh terlalu deras namun juga jangan menggenang tenang karena akar akan kekurangan oksigen dan penyerapan nutrisi oleh akar tidak optimal.
3. Mendetaksi suhu air. Sensor untuk mendeteksi suhu air sudah sangat banyak ragamnya. Suhu air tandon dalam sistem hidroponik harus dijaga agar air yang mengalir ke instalasi dan akan menyentuh akar tanaman ideal, tidak boleh terlalu panas agar akar bisa menyerap nutrisi dengan sempurna dan tanaman tidak stres.
4. Mendetksi kelembaban udara. Kelembaban udara kebun sangat penting bagi tanaman maka perlu dijaga. Sensor akan memberi peringatan jika kelembaban tidak sesuai harapan dan bisa langsung mengeksekusi mesin untuk menyemburkan titik-titik air ke udara.
5. Mendeteksi pH air. pH air sangat penting dalam budidaya tanaman termasuk dalam sistem hidroponik yang mengandalkan air sebagai media tanam. Jika pH terlalu tinggi atau terlalu rendah maka secara otomatis mesin akan memperbaiki kondisi pH air dengan menambah atau menurunkan pH.
6. Mendeteksi Volume Air Tandon. Volume air tandon sangat penting karena air sebagai media tanam utama maka air tidak boleh sampai habis. Maka perlu alat sensor untuk mendeteksi volume air tandon.

Inilah beberapa hal yang sangat dimungkinkan penerapan IoT dalam sistem hidroponik. Penerapan IoT akan menambah kualitas tanaman, menghemat SDM, namun bisa menghasilkan produk panen yang maksimal dan lebih berkualitas. (Slamet Riyanto)

Berita Terkait

Image

Resep Membuat Pestisida Nabati untuk Membasmi Hama Kutu Daun

Image

Empat Alasan Mengapa Hidroponik Perlu Green House

Image

Lima Jenis Sayuran Hidroponik Paling Laris

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image